Kasat Reskrim Polres Gresik di Laporkan Ortu Korban Pencabulan

Dinilai sengaja mempermainkan kasus pencabulan yang menimpa putrinya, seorang ibu melaporkan Kasat Reskrim Polres Gresik ke Propam Polda, Selasa (29/1). Bukannya pengaduannya diterima dan dibuatkan Laporan Pengaduan (LP), perwira yang bertugas kala itu malah memberikan surat disposisi.

SURABAYA (SPNews.com)-
Pupus sudah keinginan Tri Yulianti (38), untuk memperjuangkan nasib AW, putri tercintanya yang menjadi korban pencabulan tiga pelajar yang masih di bawah umur. Tri semakin bingung, ketika Kompol Yunior Priyono, Kasubbagyanduan Ditpropam Polda Jatim memberinya secarik kertas yang berupa surat disposisi.

Dalam surat disposisi tertanggal 29 Januari 2013 itu, Tri diminta untuk menemui Kasat Reskrim Polres Gresik, Ajun Komisaris Polisi (AKP). Nur Hidayat. Disposisi yang ditujukan kepada Kasat Reskrim Polres Gresik  itu sendiri berbunyi DH mohon diterima, dihadapkan. Pelapor dumas ke jenengan.

Selain menerima surat disposisi penghadapan, ibu korban pencabulan ini malah dibuatkan Surat Tanda Penerimaan Laporan Nomor: STPL/10/I/2013/Yanduan tanggal 29 Januari 2013 dan ditanda tangani Kaur Trimlap Subbagyanduan, AKP. Hari Suwarno. Dalam surat ini diterangkan bahwa Tri melaporkan Briptu Andi Kurniawan, anggota Polsek Krembangan.

Menanggapi laporan ibu korban pencabulan ini, Kasat Reskrim Polres Gresik, AKP. Nur Hidayat membantah jika ketiga tersangka hingga kini tidak ditangkap. Walaupun seringkali dimintai kehadirannya untuk dijelaskan perkembangan kasus yang menimpa putrinya itu, pihak keluarga korban hingga kini tidak pernah memenuhi panggilan polisi.

"Perlu pihak kelurga korban ketahui jika kasus ini sebenarnya sudah kami limpahkan ke kejaksaan. Namun, berkas kami akhirnya dikembalikan jaksa karena dianggap kurang sempurna. Kami pun diminta untuk memenuhi petunjuk jaksa ketika berkas perkara ini dikembalikan dari kejaksaan, " ujar Nur Hidayat.

Apa petunjuk jaksa itu? Nur Hidayat pun menjelaskan jika penyidik diminta mencari saksi yang mengetahui telah terjadi tindak pidana pencabulan. Berdasarkan hasil penyidikan yang dilakukan polisi, antara korban dan ketiga tersangka yaitu Farry Andre Saputra alias Andre, Makrus Efendy dan Jeffry Hidayatullah, sama-sama dalam keadaan mabuk karena baru saja menggelar pesta miras.

"Tempat Kejadian Perkara (TKP) nya sendiri sebuah rumah kosong sehingga yang mengetahui kejadian itu hanya mereka berempat. Sebenarnya, korban pada awalnya melaporkan telah terjadi tindak pidana pemerkosaan. Ketika dilakukan visum hasilnya menyatakan bahwa tidak terdapat luka pada kelamin korban. Kalaupun ada, itu luka lama. Inilah yang akhirnya membuat penyidik menyatakan jika kasus ini pencabulan," ungkap Nur Hidayat.

Masih menurut Nur Hidayat, penyidik punya alasan mengapa hingga kini tidak melakukan penahanan terhadap ketiga tersangka? Selain usia ketiga tersangka yang masih dibawah umur, ketiganya masih berstatus pelajar dan harus bersekolah.

Untuk diketahui, kasus pencabulan itu berawal dari ajakan tersangka Makrus kepada korban untuk bolos sekolah, Senin (29/10) tahun lalu. Sebenarnya, antara korban dan tersangka Andre serta Makrus Efendy adalah teman sepermainan sejak kecil, karena mereka bertiga adalah tetangga dekat.

Tak kuasa akan ajakan itu, AW pun menyanggupi. Mereka akhirnya bertemu di SPBU Banjar Sugihan. Begitu ketiganya bertemu, korban kemudian diajak ke rumah Jefry, teman kedua tersangka. Korban pun menuruti ajakan itu dan tidak mempunyai firasat jelek apa-apa.

Setibanya di rumah Jefry, korban dibiarkan seorang diri sedangkan Makrus, Jefry dan Andre keluar. Ternyata ketiga orang ini membeli minuman keras. Sekembalinya dari membeli minuman keras, ketiga tersangka kemudian memaksa korban untuk ikut pesta miras.

Walau berulangkali menolak karena kondisi sudah mabuk berat, ketiga tersangka terus saja memaksa korban untuk minum. Begitu minuman habis, korban kemudian diantarkan ke kamar Jefry untuk dibaringkan.   

Melihat korban terkulai lemas tak  sadarkan diri, ketiga orang ini dengan leluasa menikmati seluruh anggota tubuh korban, mulai meremas payudara korban, menciumi leher korban hingga (maaf) mempermainkan kelamin korban dengan jari.

Puas sudah melakukan tindakan itu, ketiga tersangka kemudian membiarkan korban tidur. Ia baru dibangunkan ketika pukul 12.30 Wib. Kasus ini terbongkar, karena orang tua korban melihat perubahan dalam diri putrinya yang menjadi pendiam. Setelah didesak, korban akhirnya mengaku telah mendapatkan perlakukan tidak senonoh dari para tersangka. Tidak terima atas tindakan itu, ibu korban kemudian melaporkan kasus ini ke polisi.(q cox, Elang)


Share Oleh :


0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)